MANUSIA PASCA EINSTEIN

Manusia Pasca Einstein adalah sosok manusia yang bersikap menurut dinamika relativitas, dengan tidak main mutlak-mutlakan, karena segala sesuatu bersifat relatif (Humanisme Mangunwijaya, 2015). Pemikiran dari sosok budayawan, orang eksakta, rohaniwan dan humanis saya cuplik untuk permenungan mengingat kecenderungan generasi muda sekarang didoktrin dengan pandangan hitam dan putih. Kebenaran menjadi mutlak, apa yang diyakininya adalah benar dan yang diyakini orang lain adalah salah, agama yang dipeluk orang lain itu mutlak salah dan yang saya peluk adalah semua mutlak benar. sehingga sah-sah saja jika yang benar itu menyerang yang salah.

Didalam hitam ada putih dan didalam putih ada hitam, ajaran dari orang bijak yang jika kita renungan menjadikan kita lebih bijak. Dan itu yang dimaksud relativitas, tidak main mutlak-mutlakan. Demikian dalam pergaulan sehari-hari, menjastifikasi orang lain menggunakan ukurannya sendiri adalah perbuatan yang sempit. Ukuran menjadi tidak mutlak benar karena memang tugas manusia adalah mencari kebenaran, dan terus mencarinya. Kebenaran sekarang mematahkan kebenaran masalalu, dan tentu akan dipatahkan kebenaran yang akan datang. Maka dari itu sebelum seseorang menjadi Hakim, Tentara, Polisi, Guru, Dosen, Pedagang, Presiden, Politikus dll harusnya mereka menjadi manusia dulu agar tidak bermain mutlak-mutlakan, melainkan mencari terus kebenaran yang hakiki.

Kita hidup bukan di dunia eksakta yang mengajarkan benar salah, yang salah dicorek yang benar dijunjung tinggi. Kita hidup di dunia yang penuh dinamika dan warna, dengan rasa kemanusiaan semua bisa dipahami sehingga kita benar-benar menjadi manusia bukan berhenti pada “binatang yang berfikir”. Selamat berproses.

Author: tyascatur

Urip kuwih meh ngopo maneh, urip pisan kudu nduwe makna, makna kanggo pepadane, makna kanggo Gustine. Ojo Dumeh....Dumeh Sugih terus sawiyah-wiyah, Dumeh Kuwoso terus mekso-mekso, dumeh pinter terus umuk. Ojo Gumunan...Gumun marang kadonyan terus serakah ngumpulke bondo sakokeh-okehe, Gumun marang Drajat pangkat banjur mendak mrono midak mrene. Urip Kuwi namung nglampahi paziarah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *