LITERASI INFORMASI DI ERA KNOWLEDGE

Perubahan peradaban menuntut kemampuan adaptasi masyarakat, baik dari peradaban berburu, peradapan pertanian, peradaban industri, peradapan informasi dan sekarang memasuki peradapan pengetahuan. Perubahan peradaban tentu saja tidak bisa secara cut over (serentak) melainkan kebanyakan terjadi secara paralel, artinya peradapan baru akan beriringan dengan peradaban sebelumnya.

Masyarakat industri dengan berbagai ciri kemudian berubah ke masyarakat informasi yang kemudian akan dilanjutkan dengan masyarakat berpengetahuan. Dengan media internet, masyarakat mengalami kebanjiran informasi yang bersifat membangun maupun merusak. Informasi yang begitu banyak akan secara mudah didapatkan sehingga diperlukan kemampuan literasi informasi. Literasi informasi adalah kemampuan untuk melakukan knowledge management dan kemampuan untuk belajar secara terus menerus. Literasi informasi sesuai rumusan UNESCO tahun 2015 dapat diperinci sebagai berikut:

  1. Mengetahui informasi yang dibutuhkan
  2. Mengidentifikasi dan menemukan lokasi informasi tersebut
  3. Mengevaluasi secara kritis
  4. Mengorganisasi dan mengintegrasikan informasi ke dalam pengetahuan yang sudah ada
  5. Memanfaatkan serta mengkomunikasikannya secara efektif, legal dan etis

Apakah manfaat dari kemampuan literasi informasi? tentu saja kemampuan ini penting dimiliki karena pada dasarnya manusia itu memiliki masalah, dari masalah tersebut tentu  akan dirumuskan sehingga dengan metode yang dipilihnya maka didapatkan pemecahan dari masalah tersebut. Literasi informasi sangat membantu dalam merumuskan masalah serta memecahkannya, pola pikir ini yang dinamakan analisis-sintesis. Literasi Informasi juga berguna memenangkan kompetisi karena mengandalkan kepintaran tidaklah cukup, justru di era pengerahuan kemampuan yang utama adalah kemampuan belajar yang terus menerus, serta kemampuan berkomunikasi secara efektif.

Mengingat hal tersebut diatas, maka keunggulan dalam berkompetisi tidak lagi di informasi melainkan bagaimana pengetahuan itu dikelola. Banyak orang terjerumus dalam literasi yang menyesatkan, dengan informasi yang salah, penarikan kesimpulan dengan nalar yang menyimpang karena kurangnya mengkritisi informasi yang dibaca (menelan mentah-mentah) apalagi jika informasi dihubung-hubungkan  dengan kefanatikan dan keyakinan. Selain itu rendahnya kemampuan mengkaitkan informasi dengan pengetahuan-pengetahuan sebelumnya dan memandang informasi secara parsiil (terpisah-pisah). Jika hal ini dibiarkan maka akan terjadi kerusakan nalar. Nalar yang dibangun secara susah payah sejak Sekolah dasar sampai perguruan tinggi akan cepat rusak karena salah mendapatkan literasi.

Pertanyaan berikutnya apakah anda sudah  memiliki literasi informasi? Jika anda memiliki ciri dibawah ini maka anda memiliki kemampuan literasi informasi. Pertama adalah kemampuan dalam merumuskan masalah, kemudian memecahkan masalah dan yang terakhir adalah mampu mengkomunikasikan ide dengan baik. Ide dipertahankan dengan argumen yang benar serta nalar yang baik. Jika ada informasi yang baru maka tidak ragu-ragu mempelajarinya, ditelaah secara kritis dan akan menolak jika ada penyimpangan nalar. Jadi secara ringkas jika anda memiliki pandangan kritis maka anda sebagai manusia yang mempunyai kemampuan literasi informasi. (Tyas Catur, 28 Juli 2016)

 

MANUSIA PASCA EINSTEIN

Manusia Pasca Einstein adalah sosok manusia yang bersikap menurut dinamika relativitas, dengan tidak main mutlak-mutlakan, karena segala sesuatu bersifat relatif (Humanisme Mangunwijaya, 2015). Pemikiran dari sosok budayawan, orang eksakta, rohaniwan dan humanis saya cuplik untuk permenungan mengingat kecenderungan generasi muda sekarang didoktrin dengan pandangan hitam dan putih. Kebenaran menjadi mutlak, apa yang diyakininya adalah benar dan yang diyakini orang lain adalah salah, agama yang dipeluk orang lain itu mutlak salah dan yang saya peluk adalah semua mutlak benar. sehingga sah-sah saja jika yang benar itu menyerang yang salah.

Didalam hitam ada putih dan didalam putih ada hitam, ajaran dari orang bijak yang jika kita renungan menjadikan kita lebih bijak. Dan itu yang dimaksud relativitas, tidak main mutlak-mutlakan. Demikian dalam pergaulan sehari-hari, menjastifikasi orang lain menggunakan ukurannya sendiri adalah perbuatan yang sempit. Ukuran menjadi tidak mutlak benar karena memang tugas manusia adalah mencari kebenaran, dan terus mencarinya. Kebenaran sekarang mematahkan kebenaran masalalu, dan tentu akan dipatahkan kebenaran yang akan datang. Maka dari itu sebelum seseorang menjadi Hakim, Tentara, Polisi, Guru, Dosen, Pedagang, Presiden, Politikus dll harusnya mereka menjadi manusia dulu agar tidak bermain mutlak-mutlakan, melainkan mencari terus kebenaran yang hakiki.

Kita hidup bukan di dunia eksakta yang mengajarkan benar salah, yang salah dicorek yang benar dijunjung tinggi. Kita hidup di dunia yang penuh dinamika dan warna, dengan rasa kemanusiaan semua bisa dipahami sehingga kita benar-benar menjadi manusia bukan berhenti pada “binatang yang berfikir”. Selamat berproses.